Itiak lado mudo Ngarai yang fenomenal

Kalau Anda punya kesempatan untuk jalan-jalan ke kota Bukit Tinggi tidak lah sempurna kalau belum memcicipi masakan yang satu ini, Itik bumbu cabe hijau. Mungkin banyak warung atau restoran di seantero Bukit Tinggi yang menawarkan menu ini, tapi ada satu yang punya menu ini yang rasanya sangat istimewa.

Nama warung ini adalah “Itiak lado Mudo Ngarai”, lokasi warung ini berada di ujung jalan Ngarai Sianok.

Perjalanan ini di mulai berjalan kaki dari sebuah gang di sebelah Taman panorama melewati sebuah perkampungan, menyusuri anak tangga tembus ke sebuah jalan beraspal yang tidak lain adalah bagian dari tembusan bungker Lobang Jepang pada Jalur Penyergapan. Tak jauh dari jalan aspal tadi kita akan menemukan dengan sebuah belokan tajam menurun, dan tak jauh dari belokan ini kita harus belok kiri masuk ke perkebunan kopi. Setelah menyusuri kebun tersebut selama hampir lima menit kita akan menjumpai hamparan sawah indah.

Berjalan di pematang sawah membuat perasaan damai ditambah dengan udara sejuk. Setelah melewati areal persawahan tadi, kita menemukan jalan umum beraspal dan melanjutkan perjalanan menuju ujung sungai lembah Ngarai Sianok. Dalam perjalanan ini kita akan menemukan sebuah warung makan di pojokan belokan jalan ini.

Setelah letih menapaki anak tangga, menikmati pemandangan persawahan dan perbukitan lalu makan “Itiak lado mudo” yang benar-benar nikmat ditambah dengan gulai daging cincangnya.

Pertama kita dimanjakan oleh pemandangan dan juga udara segar persawahan, lalu puncaknya lidah kita dimanjakan oleh kenikmatan kuliner yang luar biasa, benar-benar sebuah culinary orgasme!

Catatan perjalanan Bukit Tinggi

Akhirnya punya kesempatan juga menjelajah salah satu kota terkenal di Sumatera, walaupun sebentar tapi cukup memberikan warna dari semua perjalanan yang pernah saya jalanin. Sebuah kota di Sumatra Barat yaitu Bukit Tinggi.

Jam 3 pagi sudah dijemput oleh taksi, karena takut gak bisa bangun terpaksa gak tidur sebelumnya. Terbang dengan pesawat Garuda Indonesia pada jam 6:30 pagi, niat hati pengen tidur di pesawat tapi ternyata gak berhasil karena terlalu girang karena ini kali pertama saya pergi ke Sumatera Barat.

Alam persawahan di Bukit Tinggi, Sumatera Barat

Dengan penerbangan hampir dua jam akhirnya sampai juga di bandara Minangkabau, Padang, uaca agak mendung saat itu. Pihak hotel sudah menanti rombongan kita dan mengatakan bis jemputan sudah siap. Langsung saja kita menuju lapangan parkir yang ada di depan bandara.

Bis bergerak meninggalkan bandara menuju kota Bukit Tinggi. Baru satu jam perjalanan mata kita sudah dimanjakan oleh hamparan penjual duren di sepanjang jalan. Semua orang di rombongan langsung histeris, woow duren. Mendengar histeria rombongan akhirnya saya berteriak “Daah kita beli duren yuk” langsung saja disambut dengan suka cita dan langsung meminta sopir untuk menghentikan bis dan seketika penggemar duren berhamburan menuju kios duren di pinggir jalan.

Setelah sekitar sepuluh buah duren dibeli dan diangkut ke bagasi, bis melanjutkan lagi perjalanan. Ditengah perjalanan tepatnya di Lembah Anai kami dimanjakan dengan pemandangan perbukitan dan jalur kereta dan jembatan-jembatan untuk rel kereta peninggalan jaman kolonial, dalam perjalanan ini juga kita sempet melihat air terjun Lembah Anai dan juga tebing-tebing perbukitan nya, tapi sayang kita tidak bisa berhenti karena cuaca yang kurang mendukung karena turun hujan dan berkabut. Setelah melewati air terjun laju bis terhenti karena ada kemacetan di depan kami, selidik punya selidik ternyata ada tanah longsong di depan, sekian lama menunggu perut mulai keroncongan ditambah dengan udara dingin. Tiba-tiba datang seorang ibu menjajakan makanan di dekat kami yang sedang duduk-duduk di luar bis, tanpa babibu langsung saja kita todong si ibu “jualan apa bu?”, ternyata ada nasi ketan dan telur asin, aaaaah gak peduli langsung saja kita borong itu jualan si ibu. Beberapa teman sempet kaget karena ternyata nasi ketan yang ibu tadi jual lauknya pakai duren, yaa duren. Di daerah Sumatra makan nasi atau nasi ketan memang sudah lumrah, tapi mungkin agak janggal bagi orang-orang di Jawa. kami udah gak pedulikan itu, yang penting perut yang kosong ini bisa terisi. Selagi kita makan nasi duren ini ternyata kemacetan sudah mencair dan kami pun bisa melanjutkan perjalanan.

Sampai lah kita di kota Padang Panjang, lagi-lagi perut keroncongan, memang dasar perut ndeso ya bawaannya laper mulu. Di salah satu sudut kota kita melihat sebuah restoran yang menjual sate khas Minang, melihat pemandangan yang menggoda mata itu langsung saja kita minta sopir untuk masuk ke restoran tersebut. Saya lupa nama restorannya, tapi sate minangnya memang lezat, cukup memberikan kehangatan setelah dikurung di dalam bis ber AC yang lumayan dingin.

Sate Minang yang menggugah selera

Akhirnya sampe juga di Bukit Tinggi dan sampai juga di hotel yang kita tuju. Hotel Pusako, hotel ini adalah salah satu hotel bintang empat yang ada di kota ini. Sebuah hotel yang sepertinya sudah cukup tua, Sebenernya hotel ini bagus tapi sayang sepertinya kuang terawat, terlihat dari cat temboknya yang kusam dan beberapa bagian lantai yang pecah. Masuk ke dalam kamar secara keseluruhan bagus. Yang membuat hotel ini saya kasih penilaian buruk adalah setiap malem di hotel ini menyediakan live musik dan karaoke yang suaranya kenceng banget sampe bikin tamu merasa ke ganggu, apalagi fasilitas ini berlangsung sampai jam 1 pagi. Gila aja, di hotel kan orang pengen istirahat, yaa ok lah ada hiburannya tapi kan jangan sampe menggangu tamu dong. Hotel yang aneh!!. Makanan di hotel ini gak ada yang spesial, standar-standar aja rasanya. Nilai minus lagi untuk hotel ini adalah pelayanan para pegawainya yang kurang ramah seperti kebanyakan. Setelah kekurangnnya saya bahas kita bahas kelebihan hotel ini, kelebihannya mereka punya ruang meeting yang bagus dan luas serta tertata rapih. Sepertinya mereka memang memaksimalkan fasilitas ini. Ya tapi itu saja kelebihannya sejauh ini.

Setelah capek melakukan meeting selama tiga hari di hotel ini, akhirnya punya kesempatan juga untuk jalan-jalan, huray!!! Siang hari kami bersiap untuk pindah ke hotel yang lebih murah, ya iyaaa lah secara kemaren hotel dibayarin kantor dan sekarang bayar sendiri. Kami pindah ke hotel didekat kebun binatang, bukan di dalam kebun binatang ya. Setelah menaruh tas-tas besar kita di hotel langsung deh balik lagi ke bis untuk tour keliling kota dan menuju Pandai Sikek, karen para ibu-ibu pengen belanja kain songket. Gerombolan kita yang notabene kumpulan backpacker cuma bisa nonton aja dan saya sempet pergi ke sekitar perkampungan ini, dapet beberapa shoot foto gunung yang bagus.

Setelah ibu-ibu puas berbelanja kami para backpacker memutuskan untuk memisahkan diri dan pergi ke Lobang Jepang. Ini adalah bungker peninggalan tentara Jepang pada perang dunia kedua. Menuruni anak tangga yang lumayan panjang dan cukup curam dan disambut hawa dingin yang bikin horor karena memang bungker ini masuk ke dalam sebuah bukit ditengah kota Bukit Tinggi. Masalah datang waktu kita mau keluar Lobang Jepang ini, gila harus naek tangga yang lumayan, gampang waktu kita masukin karena posisinya turun dan sekarang kita harus naek, panjang anak tanggak ini skitar 50 meter sepertinya. Setelah beristirahat beberapa saat, perjalanan kita lanjutkan menuju Lembah Ngarai Sianok yang tadi kita lihat dari atas bukit Lobang Jepang yang dinamai Taman Panorama. Melewati jalan setapak melalui gang di dalam perkampungan disebelah Taman panorama kita sampai di jalan setapak menurun melewati kebun kopi dan muncul disebuah areal persawahan yang idah banget.

Setelah melewati areal persawahan kita muncul di jalan umum beraspal dan melanjutkan perjalanan menuju ujung sungai lembah Ngarai Sianok. Dalam perjalanan ini kami menemukan sebuah warung makan di pojokan belokan jalan ini. Karena perut lapar setelah turun bukit dan berjalan menjelajahi areal persawahan akhirnya kami putuskan untuk mampir. Kita pesan makanan andalan mereka yaitu “Itiak Lado Mudo” dan beberapa gulai daging cincang. Ini lah puncak dari kenikmatan makanan padang, setelah makanan di hotel belum bisa memuaskan kita. “Itiak Lado Mudo” atau dalam bahasa Indonesia itik bumbu cabai hijau benar-benar membius mulut kita untuk terus nambah nasi sampai lima bakul, hahaha. Kita semua kalap dan benar-benar menikmati hidangan “mak nyus!” ini. Sore hari membuat kita harus beranjak dari warung ini dan pulang ke hotel.

Itiak lado mudo Ngarai Sianok yang fenomenal. Photo dipinjam dari http://boldrecipes.id

Keesokan hari saya bersiap untuk pulang ke Bogor, sedangkan sebagian dari kita berencana untuk extend. Bersama-sama kita menggunakan bis menuju ke Padang melelalui jalur danau Maninjau lewat Kelok 44. Fiuuuh ternyata danau Maninjau cukup indah untuk dinikmati, tapi sayang kita gak bisa berlama-lama di danau ini karena ketatnya jadwal. Kita pun langsung meluncur menuju bandara Minangkabau, sebagian kita turun di bandara dan sebagian lagi melanjutkan perjalanan ke Padang.

Danau Maninjau nan elok

Bukit Tinggi photos on Flicker